Di tengah gemuruh dunia akademik yang kian gaduh oleh akreditasi, ranking, dan branding, ada satu hal yang nyaris senyap namun agung: asketikme intelektual. Dan di IPB,“kampus yang dilahirkan dari semangat Trisakti Bung Karno, pernah menyala terang dengan ruh keilmuan yang membela rakyat.
Wartapilihan.com,Bogor– Seperti yang dijelaskan Peter Brown dalam studinya tentang asketisme Kristen awal, asketikme adalah bentuk laku spiritual yang disengaja untuk melepaskan ego, bukan sekadar hidup miskin.
Sajogyo, dengan pandangan tajam dan kaki yang tak pernah jauh dari lumpur sawah, mengajarkan bahwa desa dan pertanian bukan hanya objek studi, tapi habitat pengabdian.
Satari, sosok guru sekaligus sahabat petani, memandang kampus sebagai pusat pembenihan cendekiawan yang ulet, yang membumi, yang tak silau gelar tapi setia membela mereka yang kecil.
Dan Andi Hakim Nasoetion sang rektor inklusif, menyirami IPB dengan semangat keragaman dan keterbukaan, hingga kampus ini bukan hanya menjadi tempat belajar, tapi juga rumah. Seperti halnya yang tertuang dalam tulisan-tulisan Sajogyo tentang kemiskinan struktural desa, ilmu harus tumbuh dari penderitaan rakyat, bukan sekadar mengamati dari jauh.
Ketiganya bukan sekadar cendekiawan. Mereka adalah penjaga jiwa IPB yang asli: kampus pembebas, bukan pencetak gelar semata. Bahwa ilmu, jika tercerabut dari rakyat, hanyalah kecerdasan yang kering dan sunyi. Mereka paham,
Bung Karno tidak mendirikan IPB untuk mengejar sertifikasi global, tetapi untuk menjadikan ilmu sebagai alat pembebasan. Dalam pidatonya tahun 1964, Bung Karno menekankan Trisakti: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya nilai-nilai inilah yang dulu membentuk jati diri IPB.
Hari ini, ketika sebagian mahasiswa sibuk mencari cuan lewat konten, dan birokrasi kampus lebih takut pada menteri ketimbang murid, kita pantas bertanya: masihkah asketikme itu hidup?
Inilah yang dikritik oleh Ivan Illich dalam Deschooling Society: pendidikan kehilangan jiwa ketika lebih taat pada birokrasi daripada pada kebebasan berpikir.
Masihkah asketikme itu hidup? Atau justru telah kita bunuh bersama, pelan-pelan, dengan diam?
Dr. Ir. Agus Somamihardja (Pegiat Pangan Lokal, Alumni IPB University C-20)

