Saya yakin, tempe pertama yang saya makan adalah tempe kedelai. Sebagai anak yang tumbuh di kota kecil Sumedang, kami tidak mengenal tempe lain. Tempe ya kedelai, tak ada yang lain.
Wartapilihan.com, Depok– Namun beberapa tahun lalu, saya dipertemukan dengan tempe yang berbeda. Tempe dari kacang Koro Pedang. Rasanya asing, teksturnya tak sama, tapi pengalamannya membekas. Perkenalan itu terjadi di Rumah Edukasi Koro Pedang, Taman Yasmin, Bogor. Di sana, Kang Agus Somamiharja—kakak kelas saya sejak di SMP hingga IPB University—membuka pintu wacana baru tentang pangan lokal.
Apa yang membuat saya tergerak bukan sekadar rasa tempe Koro Pedang. Tapi gagasan besar yang menyertainya: membangkitkan kembali kepercayaan diri bangsa.
Sebagian dari kita mungkin tak menyadari bahwa saat kebutuhan pokok seperti makanan masih sangat bergantung pada impor, maka kedaulatan kita sebagai bangsa pun patut dipertanyakan. Jika kedelai sebagai bahan utama tempe kita pun sebagian besar didatangkan dari luar negeri, lalu di mana letak kemerdekaan yang sejati?
Kacang Koro Pedang adalah pintu masuk. Di luar itu, masih banyak komoditas lokal yang bisa kita dorong untuk menggantikan bahan pangan impor: tepung terigu bisa digantikan oleh olahan dari umbi-umbian, kacang-kacangan, hingga biji-bijian lokal.
Apakah ini mudah? Tentu tidak.
Tapi mari tengok sejarah. Ketika tepung terigu mulai diperkenalkan ke Indonesia di akhir 1960-an, respons masyarakat tidak serta-merta positif. Roti berbahan terigu tak begitu digemari. Tapi ketika muncul mie instan, semuanya berubah. Terigu menemukan momentumnya. Kini, roti, mie, gorengan, kue basah—semuanya nyaris tak lepas dari terigu. Semua itu hasil dari proses panjang, perjuangan konsisten, dan kesabaran.
Kita sering terjebak membandingkan tempe Koro Pedang dengan tempe kedelai: rasanya, aromanya, teksturnya. Itu wajar, tapi terlalu sempit. Mari berpikir lebih luas, bayangkan jika triliunan rupiah yang kita habiskan untuk membeli kedelai impor dialihkan ke petani kita yang menanam kacang Koro Pedang. Dampaknya bukan hanya ekonomi, tapi juga psikologis—kita sedang memberdayakan bangsa sendiri.
Lantas, kita bisa berperan di mana?
Kalau bukan sebagai petani, mungkin sebagai pengolah. Kalau bukan pengolah, mungkin cukup dengan menjadi konsumen yang sadar. Siklus ini harus kita hidupkan bersama.
Ada yang bertanya, “Kalau petani mulai menanam, apakah pasarnya siap?” Di sisi lain, pelaku usaha juga bertanya, “Kalau saya produksi, apakah bahan bakunya tersedia terus-menerus?”
Kita seolah-olah terjebak dalam teka-teki klasik: ayam dulu atau telur dulu? Tapi mungkin jawabannya bukan itu yang penting. Kita semua hanya perlu mulai melangkah. Petani harus tahu apa kebutuhan pengolah. Pengolah perlu paham bagaimana menyemangati petani. Semuanya butuh komunikasi.
Mari bersinergi. Mari berkolaborasi.
Kalau gerakan ini menemukan momentumnya, bukan tidak mungkin komoditas lokal lain akan ikut bangkit. Dan bersama itu, perlahan tapi pasti, harga diri bangsa pun akan kembali tumbuh di tanahnya sendiri.
Abu Faris (Alumni 7th Permaculture Design Course Certified-Bumi Langit Institute, F-25 IPB University)

