Robot Belajar Melihat, Kita Kapan?

by

Hari ini, para insinyur robotik dari Korea hingga Eropa sedang sibuk. Mereka membedah struktur mata kucing, mempelajari pupil cumi-cumi, meniru mata majemuk serangga. Untuk apa? Agar robot bisa melihat bukan sekadar merekam, tapi memahami dunia di sekitarnya.

Wartapilihan.com, Bogor– Ironis, bukan? Di abad ke-21, ketika manusia merasa sudah di puncak pencapaian intelektual, justru mesin yang kita ciptakan mulai belajar dengan cara yang paling kuno: meniru alam.

Young Min Song, seorang peneliti di Gwangju, merancang mata robot dengan pupil vertikal ala kucing, lengkap dengan reflektor cahaya malam seperti tapetum lucidum. Tujuannya sederhana: agar robot bisa menyesuaikan diri dalam gelap, seperti kucing mengejar tikus tanpa perlu menyalakan lampu.

Sementara itu, desain pupil berbentuk W milik cumi-cumi digunakan untuk mengatasi silau di siang bolong. Serangga pun tak ketinggalan: mata majemuk mereka jadi inspirasi bagi drone agar bisa terbang lincah dan hemat energi.

Dan masih ada sensor neuromorfik, yang bekerja seperti retina: ia hanya mencatat perubahan penting, bukan segalanya. Robot tak lagi repot menyerap data tak perlu sebuah pelajaran yang manusia modern tampaknya lupa.

Tapi ini bukan soal teknologi semata. Ini tentang bagaimana alam yang kerap kita abaikan kembali menjadi guru. Kita meniru bukan karena tak mampu mencipta, tapi karena ternyata ciptaan paling canggih sudah ada di sekeliling kita. Gratis. Tinggal amati.

Di sinilah seharusnya kita tersentak. Bukankah sejak 1.400 tahun lalu, perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad adalah Iqra, bacalah?

Jibril tidak menyerahkan sebuah kitab untuk dibaca. Maka bacalah yang dimaksud adalah renungkanlah, fikirkanlah.
Bacalah dunia. Bacalah diri. Bacalah semesta. Bacalah kucing, cumi-cumi, lalat. Karena di situ ada ilmu yang tak ditemukan di laboratorium, tetapi tersimpan rapi dalam tubuh ciptaan-Nya.

Jadi, jika robot kini mulai membaca alam untuk belajar melihat, kita yang diberi akal dan iman, jangan-jangan malah tertinggal. Kita sibuk mencipta, tapi lupa merenungi. Sibuk membangun sistem canggih, tapi lupa bertanya: apa makna dari semua ini?

Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak. Pandanglah seekor kucing yang menatap di malam hari. Renungkanlah bagaimana pupil cumi-cumi yang mengalahkan kamera mahal. Dan bertanya: sudahkah kita membaca dengan hati?

Karena siapa tahu, dalam beningnya mata seekor hewan, tersimpan hikmah yang lebih tajam dari seluruh lensa robot yang pernah kita rancang.

Dan di sanalah Iqra menemukan maknanya yang paling sunyi, dan paling dalam.

-Dr. Ir. Agus Somamiharja