Iran dan Rusia Perkuat Aliansi Strategis, Barat Hadapi Tantangan Baru

Pada 22 Mei 2025, parlemen Iran secara resmi meratifikasi perjanjian kemitraan strategis selama 20 tahun dengan Rusia. Kesepakatan ini tak cuma menandai babak baru dalam hubungan kedua negara yang sama-sama menghadapi tekanan sanksi dari Barat, tapi juga berpotensi mengubah dinamika geopolitik global.

Wartapilihan.com, Jakarta – Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut perjanjian ini sebagai “fondasi baru stabilitas Eurasia”, yang mencakup kerja sama militer, teknologi, dan ekonomi. Senada dengan itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pakta ini membuka babak baru bagi negaranya untuk berperan lebih besar di kancah internasional, sekalipun harus menghadapi tekanan dari negara-negara Barat.

Kolaborasi Militer dan Keamanan yang Meningkat

Perjanjian ini memperkuat kolaborasi militer kedua negara, termasuk pelatihan bersama, pertukaran intelijen, serta pengembangan teknologi pertahanan seperti drone dan sistem rudal. Rusia juga berkomitmen membantu Iran mengembangkan sektor energi nuklir, termasuk pembangunan unit tenaga nuklir tambahan. Walaupun tidak ada klausul pertahanan bersama secara eksplisit, kedua negara sepakat untuk bekerja sama menghadapi ancaman militer bersama.

Iran selama ini memang diduga memasok drone dan rudal balistik ke Rusia untuk digunakan dalam konflik Ukraina, kendati Teheran membantah tuduhan tersebut. Baik NATO maupun Amerika Serikat terus mengingatkan Iran agar tidak mendukung Rusia dalam perang tersebut.

Dedolarisasi dan Perlawanan Ekonomi terhadap Barat

Selain aspek militer, perjanjian ini juga menandai langkah strategis di bidang ekonomi. Rusia dan Iran sepakat melakukan lebih dari 95 persen transaksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang nasional mereka, Rubel dan Rial, demi menghindari sistem keuangan Barat yang didominasi dolar AS. Ini adalah bagian dari upaya dedolarisasi yang berpotensi mengguncang dominasi ekonomi global Barat.

Iran juga telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Ekonomi Eurasia yang dipimpin Rusia, yang mulai berlaku pekan lalu. Kesepakatan ini memangkas tarif dan membuka peluang pasar yang lebih luas, sekaligus memperkuat “mini-blok ekonomi” yang dapat menggerus pengaruh ekonomi Barat secara perlahan.

Dampak Geopolitik dan Respons Dunia

Aliansi strategis ini memicu kekhawatiran di Barat dan negara-negara sekutunya. NATO meningkatkan pengawasan dan koordinasi intelijen. Sementara itu, Israel dan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi serta Uni Emirat Arab memperkuat pertahanan dan membuka jalur komunikasi dengan Moskow dan Beijing, guna mencari keseimbangan baru.

India dan Turki berada dalam posisi sulit untuk menyeimbangkan kepentingan di tengah tarik-menarik kekuatan besar. Eropa menghadapi tekanan domestik dan kesulitan menjaga netralitas, sedangkan Amerika Serikat menghadapi kritik atas kebijakan luar negerinya.

Laporan menunjukkan anggaran militer Rusia melonjak menjadi 109 miliar dolar AS pada 2024, sementara Iran juga terus meningkatkan belanja pertahanannya. Aliansi ini mencerminkan kembalinya tatanan dunia multipolar, dengan blok Timur yang semakin solid menantang dominasi Barat.

Kesimpulan

Perjanjian strategis Rusia-Iran bukan sekadar simbol, melainkan langkah konkret untuk memperkuat posisi kedua negara di tengah tekanan global. Dengan kerja sama militer yang lebih erat, pengembangan teknologi pertahanan, dan upaya dedolarisasi, mereka menantang hegemoni Barat dan membuka babak baru dalam geopolitik dunia. Barat kini harus bersiap menghadapi realitas baru di mana kekuatan global semakin terfragmentasi dan multipolar.

Pertanyaan besarnya kini, apakah aliansi ini akan menjadi poros kekuatan baru yang mampu menggeser tatanan dunia, ataukah hanya bagian dari dinamika geopolitik yang terus bergulir di tengah ketidakpastian global?

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
2,251SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles