Tanah tidak pernah protes. Dipijak setiap hari, dicangkul, disemprot, bahkan diracuni pupuk kimia, tetap diam. Mungkin kalau bisa bicara, dia akan bilang, “Aku capek.”
Wartapilihan.com, Bogor– Padahal, dari tanah-lah semuanya bermula. Sekitar 10.000 tahun lalu, manusia memutuskan berhenti nomaden ketika mulai bisa bercocok tanam.
Dan tanah bukan sekadar gundukan coklat. Menurut artikel ilmiah “Soil: The Foundation of Agriculture” karya Parikh dan James, tanah yang sehat adalah perpaduan rumit dari pasir, lanau, lempung, udara, air, bahan organik, dan miliaran mikroba. Semua harus seimbang, layaknya hidup rumah tangga.
Lalu datanglah pertanian modern. Dengan traktor, dan pupuk sintetis, dan obsesi panen maksimal, kita eksploitasi tanah habis-habisan.
Erosi terjadi. Bahan organik menurun. Hara menghilang. Tanah jadi gersang. Hasil panen merosot. Dan kita, lagi-lagi, menyalahkan cuaca.
Padahal yang perlu kita ubah bukan langit, tapi cara bertani. Tanah itu seperti tubuh. Harus diberi makan, bukan cuma dipaksa kerja. Parikh dan James menyarankan praktik berkelanjutan: rotasi tanaman, kompos alami, konservasi air. Ini bukan hal baru bagi leluhur kita, hanya dilupakan.
Lebih parah, kita menganggap tanah sebagai benda mati. Padahal segenggam tanah dihuni lebih banyak makhluk hidup daripada jumlah manusia di bumi. Mereka bekerja diam-diam, menjaga kesuburan dan memelihara kehidupan. Tapi kita balas dengan pestisida.
Sudah saatnya kita menata ulang cara pandang. Pertanian bukan hanya soal berapa ton gabah diangkut, tapi bagaimana generasi berikutnya, anak cucu kita, apa masih bisa menanam ?
Langkah awalnya mungkin sederhana saja: jangan aspal semua halaman. Tanami cabai, buat kompos dari sisa dapur. Anggap tanah seperti ibu—bukan untuk diabaikan, tapi harus dirawat.
Karena kalau tanah benar-benar lelah dan menyerah, maka semua yang kita bangun, dari gedung tinggi sampai mimpi besar, akan runtuh. Bukan karena perang, bukan karena krisis, tapi karena kita lupa: tanpa tanah, tidak ada kehidupan.
Agus Somamihardja (Alumni C-20, Pegiat Pangan Lokal)

