Menanam Harapan, Menuai Kebaikan: Sebuah Gerakan Hijau dari Green Wakaf Al-Ihsan Permata Depok

by

Di suatu sore yang hangat di Green Wakaf Al-Ihsan (GWA), sebuah kebun kecil di sudut tenang Permata Depok, kami bertemu dengan seorang tamu istimewa: Pak Bambang Sancoko, kawan lama yang kini datang bersama istri dan putranya. Hari itu mereka tidak sekadar bersilaturahmi—mereka membawa serta pohon jambu air cincalo untuk diwakafkan.

Wartapilihan.com, Depok– Dengan tangan yang masih memegang cangkul dan tanah yang menempel di sepatu, kami menyelesaikan prosesi penanaman. Di antara tawa kecil dan doa yang mengiringi, sebuah pohon baru resmi menjadi bagian dari lanskap hijau GWA. Tapi rupanya, hari itu tak hanya pohon yang ditanam—gagasan dan harapan pun ikut tumbuh.

Setelahnya, kami berjalan menyusuri kebun. Pepaya-pepaya matang menggantung berat di dahan, tanda lahan ini tak sekadar hijau tapi juga produktif. Bedengan sayur tengah dipersiapkan; pisang menunggu waktunya untuk panen; dan pohon alpukat tumbuh bersahaja di lahan seluas kurang lebih 500 meter persegi.

“Ini tanaman kentang air,” kataku sambil menunjukkan salah satu tanaman paling unik di koleksi kami. Potato air, atau kentang gantung, merambat di tali yang senagaja kami pasang, buahnya bergelantungan rapi di ketiak daun. Saya petik beberapa buah dan memberikannya kepada Pak Bambang.

Perbincangan kami mengalir ke arah yang tak disangka: peternakan ayam Italia. Dengan semangat, Pak Bambang menceritakan niatnya untuk membudidayakan jenis ayam eksotis tersebut. “Saya sudah daftar ikut pelatihannya,” ujarnya antusias. Ia berencana memanfaatkan Sampah Organik Dapur (SOD) sebagai pakan utama. Sistem yang terdengar sederhana, tapi sarat nilai keberlanjutan.

Saya tersenyum. Di GWA, kami pun berencana menjalankan program ayam kampung petelur berbasis SOD. Maka percakapan pun berkembang menjadi rencana kolaboratif.

Sumber SOD? Perumahan Permata Depok kami sudah terbiasa memilah sampah rumah tangga. “Tinggal koordinasi saja dengan pengurus RT,” jelas Pak Bambang. Namun dari diskusi ini, lahirlah sebuah ide yang lebih besar: Bank Sampah Organik.

Berbeda dari bank sampah yang sudah ada, Bank Sampah Organik akan secara khusus menerima sumbangan sampah dapur. Warga tinggal membawa limbah organik ke GWA. Sampah ditimbang, dicatat dalam buku nasabah, dan dikonversi—bukan menjadi uang—melainkan telur ayam petelur. Ayam Italia atau ayam kampung, hasil dari peternakan berkelanjutan yang bertumpu pada sistem ekonomi sirkular.

Maka, di tanah wakaf kecil ini, semangat gotong royong dan kemandirian tumbuh berdampingan dengan pohon-pohon buah dan bedengan sayur. Hijau bukan hanya warna alam, tapi juga lambang harapan, kesadaran, dan masa depan.

Jika semua berjalan sesuai rencana, komunitas kecil ini akan menjadi model hidup berkelanjutan berskala lokal: menanam untuk kebaikan, memelihara untuk masa depan, dan memetik hasil bukan hanya dari kebun, tapi dari solidaritas sosial yang menyertainya.

Abu Faris (Alumni 7th Permaculture Design Course Certified-Bumi Langit Institute, F-25 IPB University)