Kepada Almamaterku Tercinta IPB, Jangan Lupa untuk Apa Engkau Didirikan

by

Institut Pertanian Bogor (IPB) bukan sembarang kampus. Ia lahir bukan sekadar dari aspirasi akademik, melainkan dari rahim sejarah panjang perjuangan bangsa: untuk merdeka dari kelaparan, tergantung dari luar negeri, dan ketertinggalan di bidang pangan. Sejak awal, IPB bukanlah sekadar perguruan tinggi. Ia adalah mandat.

Wartapilihan.com, Bogor — Mandat itu kini diguncang oleh kabar terbaru: Fateta—Fakultas Teknologi Pertanian—bertransformasi menjadi Sekolah Teknik. Sekilas terdengar modern. Apalagi di tengah hiruk pikuk tren revolusi industri, smart farming, hingga pertanian presisi. Namun, satu hal yang tak boleh dilupakan: nama boleh berubah, tapi jati diri tidak boleh hilang. IPB jangan tergelincir menjadi kampus teknik biasa yang ingin mengejar pamor, tapi justru kehilangan akar perjuangannya.

Bangsa ini belum berdaulat dalam pangan. Impor beras, kedelai, gula, jagung, bahkan bawang putih dan garam masih menjadi berita rutin tiap tahun. Petani kita makin tua, sawah makin sempit, dan regenerasi nyaris jalan di tempat. Ini bukan soal citra. Ini soal hidup matinya bangsa.

Di tengah kenyataan itu, IPB semestinya tidak kabur dari kenyataan, hanya karena “anak muda cerdas tidak tertarik pada pertanian.” Justru di sinilah tantangan IPB yang sesungguhnya: mengubah persepsi generasi muda bahwa pertanian bukan dunia kotor dan miskin, melainkan dunia strategis, penuh peluang, dan sarat kemuliaan. Pertanian bukan masa lalu. Ia adalah masa depan.

Apa jadinya bila kampus yang mestinya menjadi lokomotif pertanian, justru ikut berpaling karena merasa bidangnya tidak populer? Apakah karena minat mahasiswa pada pertanian menurun, lalu IPB harus berubah arah? Tidak. IPB bukan penumpang yang ikut arus, ia mestinya adalah nakhoda yang mengarahkan arus.

Biarlah Fakultas Kedokteran digarap UI, UNPAD, UNAIR, dan kampus-kampus dengan basis kuat di bidang medis. Biarlah Fakultas Teknik dikembangkan oleh ITB yang sejak awal memang dibangun untuk itu. IPB punya lahan perjuangan sendiri, dan lahan itu belum selesai digarap. Belum panen.

Tantangan pangan nasional tidak bisa dijawab hanya dengan retorika atau pencitraan. Dibutuhkan riset yang aplikatif, inovasi yang membumi, dan generasi baru yang mau turun ke sawah, ke ladang, ke tambak, dan ke hutan. Itu semua hanya bisa dipimpin oleh kampus yang konsisten dengan perjuangannya.

Transformasi struktur organisasi sah-sah saja. Namun, jangan sampai perubahan nama menjadi “Sekolah Teknik” justru melemahkan semangat teknolog pertanian yang dibentuk untuk memperkuat lumbung pangan bangsa. Jangan sampai inovasi pertanian dianggap kurang seksi, dan lalu ditinggalkan secara diam-diam oleh institusi yang selama ini menjadi bentengnya.

IPB punya tugas berat, tapi juga mulia: mendidik anak bangsa agar bukan hanya cakap teknologi, tapi juga cinta tanahnya. Agar mereka melihat pertanian bukan sekadar urusan ekonomi, tapi juga kedaulatan. Bukan cuma soal bisnis, tapi juga harga diri bangsa.

Negara ini butuh perguruan tinggi pertanian yang kuat, relevan, dan berani berdiri tegak di tengah gempuran tren global yang seringkali menyesatkan. Negara ini tidak butuh semua kampus menjadi seragam, semua mengejar fakultas kekinian demi prestise. Justru keberagaman keahlian adalah kekuatan bangsa.

IPB tidak dilahirkan untuk mengejar ranking dunia. Ia dilahirkan untuk menjawab panggilan bumi Indonesia yang subur, tapi belum makmur. Kalau IPB tidak lagi menjaga benteng pertanian nasional, lalu siapa?

Ingat, yang diserahkan oleh pendiri bangsa kepada IPB bukan sekadar gedung dan kurikulum. Tapi amanat. Dan amanat itu tidak bisa dikompromikan hanya karena ketenaran.

Agus Somamihardja (Alumni IPB C-20, Pegiat Pangan Lokal)