Petani , Mati Suri di Ladang Sendiri

by

Di Cipanas, di Ciwidey , di lereng hijau yang setiap pagi berkabut, para petani bangun lebih cepat dari ayam. Mereka menanam sawi, tomat, bayam, wortel—bukan untuk makan sendiri, tapi untuk memenuhi standar pasar yang bahkan tak pernah mereka pahami.

Wartapilihan.com, Bogor— Bayam harus sama panjang. Wortel harus lurus dan meruncing. Tomat harus merah mengilap seperti cat mobil. Yang sedikit lecet, sedikit bengkok, sedikit terlalu kecil—langsung dibuang. Dihargai murah. Ditinggalkan.
Padahal semua itu segar. Sehat. Bisa dimakan.

Menurut laporan WRI (World Resources Institute ) Indonesia, lebih dari 60% hasil pertanian dalam negeri terbuang. Sebagian besar bukan karena busuk. Tapi karena tidak lolos “make up” pasar modern. Standar yang ditulis entah di mana, ditetapkan entah oleh siapa, tapi harus ditaati oleh petani kecil yang menanam dengan tangan dan keringatnya sendiri. Ini bukan sekadar inefisiensi. Ini penghilangan nilai. Ini pemiskinan sistematis. Dan ini terjadi setiap hari.

Petani dibunuh pelan-pelan oleh standar yang tak berpihak. Dibebani ekspektasi visual, tapi tidak pernah diajak bicara soal harga yang adil, distribusi yang efisien, atau hak mereka sebagai produsen pangan. Hasil panen lebih banyak dibuang daripada dimakan. Tapi di kota, harga tetap tinggi, dan konsumen tetap tak kenal siapa yang memberi mereka makan.

Kita hidup dalam sistem pangan yang menindas diam-diam. Bukan dengan senjata, tapi dengan standar. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan kontrak. Bukan dengan penjajahan langsung, tapi dengan globalisasi yang menyaru sebagai modernitas.

Lalu kita heran kenapa petani pergi? Kenapa sawah jadi perumahan? Kenapa anak muda tak lagi mau menanam? Karena yang menanam tidak dihargai. Karena yang memproduksi pangan dianggap tidak penting. Karena yang memberi makan justru paling sering kelaparan.

Kembali kita bisa belajar dari Jepang. Ketika sistem pasar mulai meminggirkan petani, mereka tidak angkat senjata. Mereka melawan dengan cara yang sunyi tapi bermartabat. Mereka membangun Teikei—sistem distribusi langsung dari petani ke konsumen. Tanpa tengkulak. Tanpa etalase. Tanpa pemolesan.

Sayuran tidak sempurna dikirim dengan kejujuran. Konsumen menerimanya dengan hormat. Bukan karena bentuknya indah, tapi karena mereka tahu: makanan adalah hubungan, bukan komoditas.

Teikei bukan sekadar sistem logistik. Ia adalah gerakan kultural: memperpendek jarak, membangun rasa saling percaya, dan mengembalikan martabat petani sebagai penyambung hidup rakyat.

Lalu pertanyaannya: kenapa kita di Indonesia, yang katanya hidup dari gotong royong, tidak membangun Teikei versi kita sendiri?
Bukankah sejak dulu petani kita terbiasa menanam bersama, berbagi hasil, saling bantu di musim tanam dan panen? Bukankah kita punya pasar-pasar desa, lumbung-lumbung rakyat, bahkan sistem tebasan yang lebih adil dari supermarket?

Jawabannya menyakitkan: karena gotong royong kita sudah lama dibungkam. Diganti birokrasi. Digantikan oleh koperasi yang kehilangan roh. Digantikan oleh pasar yang menyamar jadi modernitas, tapi tak berpihak pada petani.

Dr. Ir. Agus Somamihardja (Pegiat Pangan Lokal, Alumni IPB University C-20)