Layar Diplomasi Paman Sam: Janji Palestina di Tengah Manuver Trump dan Realitas Geopolitik

by

Di panggung diplomasi global yang kerap berselimut kabut, sebuah pengakuan mengejutkan datang dari lingkaran dalam Washington.

Wartapilihan.com, Jakarta– Steve Wkov, seorang pejabat yang disebut-sebut dekat dengan pusat kekuasaan Amerika Serikat era Donald Trump, membocorkan apa yang ia sebut sebagai “kebohongan” Gedung Putih terkait pengakuan kedaulatan Palestina. Cerita ini, jika terbukti, tak hanya mengoyak citra Paman Sam sebagai juru damai, tetapi juga menelanjangi kompleksitas manuver politik di balik layar kekuasaan.

Menurut Wkov, janji manis Trump untuk mengakui Palestina sejatinya tak lebih dari siasat. Di balik retorika yang seolah memihak “bumi para nabi” itu, tersembunyi kalkulasi dingin: ketakutan akan potensi serangan balasan dari Yaman dan Iran, dua negara yang kian vokal menyuarakan perlawanan. Konon, Trump sama sekali tak berniat menghalangi rencana Israel untuk menggempur Gaza. Pengakuan kedaulatan Palestina, yang sempat digembar-gemborkan, hanyalah selubung untuk meredam murka regional.

Panggung KTT Teluk: Sandiwara Pengakuan?

Panggung sandiwara itu, klaim Wkov, mencapai puncaknya dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi di Teluk. Di hadapan para pemimpin negara-negara Muslim, Trump, sang presiden ke-47 AS dengan rambut pirangnya yang khas, disebut-sebut mengucapkan “janji suci” untuk memerdekakan Palestina. Langkah ini, yang dikonfirmasi oleh sumber internal dari kawasan Teluk yang tak ingin disebut namanya, dirancang untuk meyakinkan publik internasional akan perubahan sikap Washington. The Media Line bahkan sempat mengutip bahwa Trump tak hanya akan mengakui, tetapi juga membantu pembentukan negara Palestina, seraya berjanji meringankan derita rakyat Gaza yang terkepung krisis. “Kami sedang memperhatikan Gaza. Kami berjanji akan menangani situasi di wilayah tersebut. Banyak orang yang menderita kelaparan,” demikian kutipan pernyataan Trump yang beredar.

Namun, seperti lakon yang belum usai, plot cerita berbelok tajam. Tak lama berselang, Trump justru kembali mengungkit rencana kontroversial untuk merelokasi warga Gaza. Kali ini, sasarannya adalah Libya. Demi memuluskan ambisi tersebut, Washington bahkan bersedia mencairkan miliaran dolar aset Libya yang sebelumnya dibekukan akibat sanksi internasional. “Saya punya konsep bagus untuk menjadikannya sebagai zona kebebasan. Biarkan Amerika terlibat dan itu akan terjadi,” ujar Trump, sebuah pernyataan yang membuyarkan harapan banyak pihak.

Dukungan Ganda untuk Israel dan Teka-Teki Netanyahu

Niat Trump yang sesungguhnya, menurut Wkov, tak pernah bergeser dari dukungan penuh terhadap Israel. Meski di depan publik ia seolah “memaksa” sekutunya itu untuk mengakui kedaulatan Palestina – sebuah langkah yang kabarnya membuat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu “kaget bukan main” dan merasa Israel dilabeli “beban” – di belakang layar, lampu hijau untuk operasi militer di Gaza tetap menyala. Netanyahu, yang awalnya terkejut, akhirnya bisa “bernapas lega” mengetahui dukungan diam-diam tersebut.

Wkov membeberkan bahwa AS terus menekan Arab Saudi untuk mengakui Israel, seraya menutup mata terhadap berbagai operasi militer Zionis di Gaza. Tak ada kecaman keras yang keluar dari Gedung Putih. Sebaliknya, sejumlah politisi Amerika, termasuk Senator Marco Rubio, justru aktif menghubungi pejabat Israel, termasuk Netanyahu, di tengah panasnya bombardemen di Palestina.

Lalu, mengapa AS seolah tak berdaya menghentikan Israel? Wkov memberikan jawaban yang lugas, “Kami bukan pemerintah Israel. Pemerintah Israel adalah pemerintah yang berdaulat. Mereka tidak dapat memberitahu kami apa yang harus dilakukan dan kami tidak dapat memberitahu mereka apa yang harus dilakukan.” Sebuah pengakuan akan batas-batas pengaruh, atau mungkin, keengganan untuk benar-benar menekan sekutu terdekatnya.

Panik Citra dan Manuver Ekonomi

Manuver membingungkan Trump di Timur Tengah, lanjut Wkov, tak lepas dari upaya memperbaiki citranya yang tergerus di panggung domestik dan internasional. Pemerintahan Trump memang tengah limbung akibat berbagai kemerosotan, salah satunya krisis ekonomi imbas perang tarif dengan Tiongkok. Raksasa teknologi seperti Apple dilaporkan kehilangan kapitalisasi pasar hingga miliaran dolar, sementara konsumen Amerika justru kian melirik produk-produk Tiongkok. Dalam kepanikan itulah, Trump disebut mencari cara untuk “menarik perhatian” dan “mengambil untung” dari panggung internasional.

Salah satu contohnya adalah perubahan sikap terhadap kelompok Houthi di Yaman. Setelah serangan-serangan AS tak kunjung membuahkan hasil signifikan – bahkan Houthi berhasil menembak jatuh tujuh drone MQ-9 Reaper dan nyaris menghajar jet tempur F-16 serta F-35 AS, menurut catatan New York Times – Trump justru berbalik memuji “kegigihan” dan “keberanian” para pejuang Houthi. “Kami menyerang mereka dengan sangat keras dan mereka memiliki kemampuan hebat untuk menahan serangan tersebut,” ujar Trump, sebuah pengakuan yang menyiratkan kegagalan strategi militer AS.

Gertak Iran dan Kesepakatan Nuklir yang Rumit

Di front lain, menghadapi Iran, Paman Sam juga tampak kewalahan. Perundingan terkait fasilitas nuklir Iran nyaris batal akibat pernyataan Trump yang dianggap “nyeleneh”. Ia mengaku ingin menggunakan “kekuasaan untuk mencapai perdamaian,” sebuah klaim yang langsung dibantah oleh Pemimpin Agung Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Khamenei menuding Trump berbohong dan justru ingin terlibat aktif dalam konflik di Gaza dan wilayah lain, seraya menyerukan pengusiran AS dari Timur Tengah. “Dengan persatuan regional, kami mengecam AS untuk segera meninggalkan kawasan ini,” tegas Khamenei, menyikapi pernyataan Trump bahwa negara-negara Arab tak akan bertahan tanpa bantuan Amerika.

Namun, di tengah ketegangan itu, muncul dugaan bahwa sikap AS yang melunak hanyalah kedok untuk memuluskan kesepakatan nuklir dengan Iran. Trump sendiri sempat mengonfirmasi bahwa perundingan “semakin dekat mencapai kesepakatan.” Yang menarik, diskusi tersebut kabarnya bisa berjalan mulus tanpa melibatkan Israel, yang selama ini dianggap Netanyahu sebagai “pengganggu” utama dalam isu nuklir Iran.

Kisah yang dibocorkan Steve Wkov ini, jika benar adanya, melukiskan betapa rumit dan penuh likunya labirin diplomasi Amerika Serikat. Janji-janji kemanusiaan dan pengakuan kedaulatan bisa jadi hanyalah bidak catur dalam permainan geopolitik yang lebih besar, di mana kepentingan nasional, citra politik, dan realitas kekuatan di lapangan saling berkelindan, seringkali mengorbankan harapan jutaan rakyat Palestina yang merindukan kemerdekaan sejati. Tabir masih tebal menyelimuti kebenaran utuh di balik manuver-manuver Gedung Putih.