Kita sering terpesona oleh penemuan sain modern. Dari fisika kuantum, AI, sampai teori kosmologi. Namun, banyak dari pengetahuan itu sering terasa seperti hanya membuktikan apa yang sudah lama diyakini leluhur, atau yang diwariskan dalam kitab-kitab suci. Penemuan ilmiah itu seolah hanya mengulang apa yang sudah dibisikkan semesta sejak ribuan tahun lalu.
Wartapilihan.com, Garut– Dalam banyak tradisi spiritual, ada petunjuk tentang penciptaan jagat, siklus alam, hubungan batin antar makhluk, hingga kekuatan niat dan doa. Di Jawa, ada serat-serat lama yang menyinggung tentang “ilmu sejati” yang menyatu dengan alam dan batin. Leluhur kita, tanpa gelar Ph.D, bisa membaca pertanda dari arah angin, warna langit, dan gerak burung. Mereka tidak memisahkan ilmu dari hidup. Mereka tidak menaklukkan alam, mereka mendengarkannya.
Tapi sejarah tidak selalu berpihak pada yang bijak.
Ketika bangsa-bangsa kolonial datang membawa bedil dan buku hukum, mereka bukan hanya menaklukkan tanah, mereka juga menaklukkan cara kita memahami dunia. Mereka mengambil naskah-naskah kuno, merobek kitab-kitab hikmah, lalu membawanya ke perpustakaan-perpustakaan di Eropa.
Sejarawan Peter Carey dalam bukunya The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855 (2007), mengungkap bagaimana Belanda menyita dan membawa ratusan naskah Jawa kuno ke Leiden saat menangkap Pangeran Diponegoro. Naskah-naskah itu mencakup babad, primbon, kitab pengobatan, hingga manuskrip metafisika yang menyimpan cara pandang dunia orang Jawa.
Hal serupa terjadi di Amerika Latin. Bangsa Inka dan Maya memiliki sistem pengetahuan kompleks, dari astronomi, irigasi, hingga arsitektur presisi. Tapi Spanyol membakar ribuan codex kuno dalam tragedi seperti yang dicatat oleh Diego de Landa dalam Relación de las cosas de Yucatán (1566). Naskah-naskah itu dianggap “penyesatan” dan digantikan oleh dogma kolonial. Satu peradaban runtuh bersama pustakanya.
Ilmu kita dijarah, lalu dibingkai ulang dengan bahasa penjajah. Kearifan lokal dijadikan “folklor”, bukan “ilmu”. Spiritualitas dijadikan “takhayul”. Dalam waktu singkat, kita menjadi tamu di tanah pengetahuan sendiri.
Sialnya, bukan hanya mereka yang curang. Kita juga lengah. Banyak elit lokal lebih sibuk menjaga simbol dan kuasa ketimbang membangun sistem pertahanan ilmu. Kita punya kitab, tapi lupa menjaga tafsirnya. Kita punya warisan, tapi tidak mewariskannya. Lama-lama, kita hanya menjadi penonton di museum peradaban sendiri.
Dalam Why Nations Fail (Acemoglu & Robinson, 2012), dijelaskan bahwa bangsa-bangsa yang gagal membangun institusi inklusif akan mudah dikuasai oleh kekuatan luar. Ketimpangan pengetahuan dan kekuasaan bukan hanya disebabkan oleh kolonialisasi, tapi juga oleh struktur dalam negeri yang elitis, eksklusif, dan malas beradaptasi.
Dan hari ini, ketimpangan itu masih hidup. Negara-negara yang menjarah naskah kita kini jadi pusat sains dan teknologi. Sementara bangsa-bangsa yang punya kitab suci dan kearifan alam, dari Aborigin, Indian Amerika, Afrika, sampai Nusantara, malah tenggelam dalam krisis pangan, pendidikan, dan identitas.
Tapi belum terlambat.
Sudah saatnya kita menyambung kembali benang-benang ilmu yang diputus sejarah. Membaca ulang serat-serat lama, menggali ulang ajaran leluhur, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa zaman. Kita tidak kekurangan hikmah. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk percaya kembali kepada akar kita sendiri.
Karena sesungguhnya, kita tidak kalah karena kita bodoh. Kita kalah karena kita lupa. 🙏🙏
Dr. Ir. Agus Somamihardja (Pegiat Pangan Lokal, Alumni IPB University C-20)

