Sebuah langkah mengejutkan datang dari Washington. Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, dilaporkan telah menjalin komunikasi langsung dengan Hamas tanpa melibatkan Israel. Puncaknya, seorang sandera berkewarganegaraan ganda AS-Israel dibebaskan, memicu pujian dari Trump untuk Hamas dan semakin menekan posisi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
wartapilihan – Dinamika konflik Gaza memasuki babak baru pada pertengahan Mei 2025. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari berbagai sumber, termasuk Gaza Media dan pernyataan resmi, Amerika Serikat secara aktif melakukan kontak langsung dengan Harakah Muqawamah Islamiyah (Hamas). Inisiatif ini, yang berjalan tanpa mediasi Israel, membuahkan hasil konkret dengan rencana pembebasan seorang sandera Israel berkewarganegaraan ganda AS, Eidan Alexander, pada Senin, 12 Mei 2025.
Presiden AS Donald Trump, pada Minggu, 11 Mei 2025, secara terbuka mengapresiasi langkah Hamas tersebut. Melalui unggahan di media sosialnya, Trump menyebut pembebasan sandera sebagai “perkembangan yang baik” dan berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat. “Diharapkan ini menjadi langkah pertama yang diperlukan untuk mengakhiri konflik brutal ini,” ujar Trump, seraya berharap seluruh tahanan dapat dibebaskan dan pertempuran segera berakhir.
Hamas, dalam pengumumannya, membenarkan bahwa pembebasan Alexander dilakukan setelah komunikasi intensif dengan pemerintah AS. Lebih lanjut, Hamas menegaskan kesiapan mereka untuk memulai negosiasi intensif guna mencapai kesepakatan akhir, termasuk perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan. Mereka juga menyarankan pembentukan komite independen untuk mengelola Gaza, memastikan stabilitas jangka panjang, pembangunan kembali, dan pencabutan blokade.
Pukulan bagi Netanyahu, Dilema bagi Israel
Langkah unilateral AS ini dinilai banyak pihak sebagai pukulan telak bagi kredibilitas Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Upaya Netanyahu untuk membebaskan sandera melalui tekanan militer dan genosida di Gaza dianggap gagal, sementara pendekatan negosiasi langsung oleh AS terbukti mampu membuahkan hasil.
Steve Witkoff, Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah, dalam pertemuan dengan keluarga para tahanan, mengungkapkan bahwa pemerintah AS berupaya memulangkan para sandera namun menyebut “Israel tidak memiliki keinginan untuk mengakhiri perang.” Hal ini senada dengan laporan Times of Israel yang menyebutkan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) secara diam-diam menghentikan aktivitas militer di Gaza menjelang pembebasan Alexander.
Meskipun Netanyahu menyatakan bahwa pembebasan Alexander tidak memiliki implikasi kewajiban bagi Israel untuk membebaskan ratusan tahanan Palestina atau mengubah kebijakan bantuan kemanusiaan, ia kini berada dalam posisi dilematis. Menolak untuk mengikuti arah yang diinisiasi AS berisiko merusak hubungan dengan sekutu utamanya dan memperburuk citra internasional. Namun, mengikuti kehendak AS, terutama jika mengarah pada gencatan senjata yang lebih permanen, dapat meruntuhkan koalisi pemerintahannya yang didominasi kelompok sayap kanan ekstrem seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich, yang menganggap gencatan senjata sebagai “garis merah.”
Sinyal ketegangan semakin menguat ketika Netanyahu, dalam rapat Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset, menyatakan bahwa Israel perlu mulai mengurangi ketergantungan terhadap bantuan militer AS yang bernilai miliaran dolar setiap tahun. “Saya pikir kita perlu melepaskan diri dari ketergantungan pada bantuan militer Amerika,” ujarnya, sebuah pernyataan yang muncul di tengah friksi dengan pemerintahan Trump. Bahkan, Menteri Israel Avi Dichter dilaporkan membalas dengan mengatakan, “Kami bukan bintang ke-51 bendera Amerika,” menunjukkan panasnya hubungan kedua negara.
Hamas di Atas Angin?
Bagi Hamas, perkembangan ini membawa sejumlah keuntungan strategis. Selain potensi terbukanya blokade kemanusiaan dan penghentian serangan, yang menjadi tuntutan utama mereka, langkah AS ini memberikan legitimasi politik internasional yang signifikan. Diakui sebagai pihak yang bisa diajak bernegosiasi langsung oleh negara adidaya sekelas AS, posisi tawar Hamas menguat.
Pakar menilai, kegagalan Israel melumpuhkan Hamas melalui serangan darat dan bencana kelaparan, ditambah dengan tekanan publik global dan domestik di AS (termasuk demonstrasi mahasiswa pro-Palestina), memaksa Washington mencari pendekatan alternatif. Apresiasi Trump terhadap Hamas, meskipun langka, menandakan pergeseran pragmatis dalam kebijakan AS.
Tiga tuntutan utama Hamas tetap menjadi harga mati: mengakhiri genosida di Gaza, penarikan penuh pasukan Israel dari seluruh wilayah Gaza, dan pencabutan blokade total. Senjata di tangan Hamas, yang membuat mereka mampu bertahan dan memberikan perlawanan, menjadi kartu truf utama dalam setiap negosiasi.
Arah Konflik Selanjutnya
Dengan pesawat-pesawat tempur Israel dilaporkan mulai menghilang dari langit Gaza dan IDF menghentikan aktivitas militer (meskipun belum ada jaminan permanen), situasi tetap cair. Netanyahu dihadapkan pada pilihan sulit: menentang AS dan menghadapi isolasi yang lebih besar, atau mengikuti arus diplomasi baru dengan risiko kehilangan kekuasaan di dalam negeri.
Sementara itu, dunia menunggu apakah langkah AS ini akan menjadi pembuka jalan bagi solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan, atau hanya jeda sementara dalam konflik yang telah merenggut puluhan ribu nyawa. Satu hal yang pasti, kebuntuan strategi militer Israel dan keberhasilan negosiasi langsung AS-Hamas telah mengubah peta permainan secara signifikan di Gaza.

