Tanah yang Mati Jiwa yang Terputus

by

Para petani leluhur kita, dulu tidak belajar mikrobiologi. Tapi mereka tahu bahwa tanah itu hidup. Mereka memberi makan tanah dengan jerami, kotoran ternak, dan daun gugur.

Wartapilihan.com, Bogor— Mereka menyebutnya humus, saripati kesuburan. Bagi mereka, bertani bukan hanya soal memberi pupuk, tapi menjaga harmoni antara makhluk yang tak kasat mata.

Hari ini, ilmu pengetahuan menyebutnya Soil Food Web, jaringan kehidupan di bawah permukaan tanah. Ada bakteri, ada jamur, protozoa, nematoda, hingga cacing tanah. Semuanya bekerja diam-diam mengurai bahan organik, membentuk struktur tanah, menyuburkan akar dan menjaga keseimbangan.

Tanah yang sehat bukanlah benda mati. Tanah yang sehat adalah sebuah komunitas kehidupan.

Tapi kita membunuhnya. Sejak Revolusi Hijau, tanah dijadikan pabrik. Seolah rangkaian proses produksi di pabrik: tanah dibajak, lalu ditabur pupuk kimia, kemudian disemprot pestisida. Dan, tanah kehilangan ruhnya. Mikroba punah. Cacing pergi. Yang tersisa hanya tanah yang kering mengeras, penuh debu yang haus pupuk.

Lalu kita bingung dan heran. Mengapa panen menurun? Kenapa petani bangkrut akibat terus merugi? Bagaimana lahan bisa cepat rusak?

Kita mencari solusi dari laboratorium, dari Perusahaan dan dari luar negeri.

Padahal jawabannya sudah lama ada: hidupkan Kembali tanah kita.

Kini dikenal istilah pendekatan pertanian regeneratif dan circular agriculture. Keduanya, adalah jalan kembali untuk memperbaiki ekosistem tanah secara alami dan berkelanjutan. Dalam sistem ini komponen ternak dimasukan, Bukan sekadar pelengkap tapi bagian penting dari siklus kehidupan.

Kotoran domba, kotoran sapi dan ayam adalah sumber pupuk hayati. Bahan organik menjaga kesuburan dan struktur tanah. Lebih dari itu, ternak juga berfungsi sebagai tabungan petani.

Ternak adalah sumber daya yang bisa diwariskan, bisa dijual disaat darurat dan dijaga sebagai bagian dari ekosistem keluarga.

Kembali ke pertanian tradisional bukan hanya romantisme masa lalu, tapi pada nilai leluhur dan kebijaksanaan yang sudah terbukti. Kurangi racun, kurangi pupuk kimia, kurangi pestisida, rawat tanah dengan kompos dan pestisida alami. Pelihara ternak dengan penuh kasih. Jangan eksploitasi, tapi bersahabatlah.

Mari kita renungkan, setelah kita memberi pupuk pada tanaman, apakah kita juga sudah memberi dan mencukupi kebutuhan komunitas mahluk renik hidup didalamnya?

Jangan jangan kita justru diam-diam mematikan tanah kita sendiri.

Dr Ir Agus Somamihardja