Hari ini tanggal 18 Januari 2024.
Langit tampak cerah sejak matahari muncul di upuk timur subuh tadi.
Tidak seperti kemaren yang mana awan kelabu berarak dari arah selatan.
Sekarang terasa hangat namun tidak ada yang istimewa.
Semua biasa saja.
Ketika kuhidupkan hapeku, kulihat di beberapa group WatsUpp yang kuikuti, tak satu tulisan atau vidio pun yang muncul disitu.
Begitu pula di bagian japri, jaringan pribadi, juga tak satu pesan pun yang tampak.
Barangkali memang pada sibuk atau bosen menulis dan menge-share vidio.
Anakku yang baru menikah sudah berangkat mengajar di pesantrennya.
Suaminya sebentar lagi juga berangkat mengajar di pesantren yang sama.
Dan aku sendirian di kamar, lagi merenung dan juga mengingat masa lalu yang penuh kebahagian dan juga kepiluan.
Sekitar tiga puluh lima tahun terakhir ini aku banyak punya teman dari kalangan ustadz dan para pegiat agama.
Namun aku merasa tak punya teman dekat bahkan seorang pun dimana aku bisa curhat dan bahkan berdebat tanpa kebencian, karena di kalangan ustadz ada banyak kelompok, ada banyak firqah, dan ada banyak friksi, atau pemahaman masing-masing mengenai agama ini.
Bila berdebat lebih sering berakhir dengan ketidak sukaan, oleh karena itu barangkali Rasulullah melarang berdebat.
Jadi sekarang bertemaan hanya sekedar berteman biasa saja namun tidak begitu dekat karena susahnya menyatukan pemahaman dan hati.
Dulu waktu muda aku adalah seniman lukis, penulis cerpen, juga penulis novel.
Selain itu aku ilustrator di beberapa majalah remaja di Jakarta dan juga melatih drama di group teater.
Pendek kata nyaris semua kesenian kugeluti terkecuali musik dan tari, namun aku banyak teman pemusik dan artis film.
Ketika sebagai seniman itulah aku banyak teman dekat bahkan menjadi saudara dengan keluarga dan anak-anak mereka hingga sekarang.
Aku merasa banyak seniman yang lebih baik hati dan humanis ketimbang para ustadz.
Sehingga aku bisa berbagi hidup, berbagi perasaan dan pikiran dengan teman seniman.
Bila curhat kepada teman senimanku seperti kutelanjangi diriku seluruhnya.
Kalau kebanyakan ustadz berbagi hidup karena dorongan agama, tapi seniman lebih oleh dorangan perasaannya karena hati mereka pada lembut.
Menurutku, apabila seniman tenggelam dalam ilmu agama maka dia lebih baik hati dari pada para ustadz dan banyak ulama.
Karena hingga hari ini, aku melihat ada banyak ulama rakus, mengemis-ngemis dan membungkuk-bungkuk di pintu-pintu penguasa, tapi seniman lebih suka bersahaja dari pada harus memuji penguasa.
Ada sih seniman yang memuji penguasa dalam karya seninya namun bukan untuk menjilat tapi lebih karena dorongan perasaannya terlepas salah dan benarnya.
Oya, aku ada kisah nyata yang lucu yang akan kuceritakan di sini tentang seniman dan akademisi.
Kejadiannya hampir empat puluh tahun silam.
Ada seorang temanku, dia seorang akademisi, sekarang sudah doktor dan bidangnya ekonomi.
Mungkin karena kesepian dia main-main ke rumah saudara angkatku yang seniman.
Kala itu teman-teman dan murid-murid senimanku lagi ngumpul.
Saudara angkatku bercerita bahwa dia sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan penerbangan.
Di situ dia diajak ikut arisan oleh teman sekantornya, dan dia mau saja.
Tapi belakangan dia enggan hadir di acara arisan itu.
Katanya dia tak menemukan persaudaraan di situ.
Menurutnya tidak ada persaudaraan yang tulus di dunia ini terkecuali persaudaraan di antara seniman.
Temanku yang akademisi itu tercengang lalu spontan bertanya.
” Persaudaraan seniman yang kamu katakan tulus itu seperti apa sih ?” tanyanya penasaran.
” Kamu punya uang sekarang ?” Tanya saudara angkatku yang seniman itu.
” A aada. Kenapa ?” Temanku yang akademisi itu heran.
” Sini kasihkan padaku ” kata saudara angkatku itu.
Teman yang akademisi itu menyerahkan uang dari kantongnya dengan wajah bertanya-tanya.
Saudara angkatku mengambilnya lalu memasukkan kedalam kantong kemejannya.
” Uang ini buat aku ” katanya.
” Kok .. begitu ?! ” Kata teman yang akademisi itu tergagap.
” Kamu kan tadi mau tahu persaudaraan seniman itu seperti apa. Ya seperti ini.
Uang ini buatku. Kebetulan aku nggak punya uang..” jawab saudara angkatku.
Teman yang akademisi itu terbengong-bengong.
Seniman itu memang seringkali mencengangkan.
Tapi ada jeleknya seniman.
Mereka adalah mahluk pemuja estetik tapi kebanyakan mereka lupa dengan pemilik estetik sesungguhnya.
Yaitu Allah.
( Iwan Hasanul Akmal )

