Milyarder Beralih ke Ladang

by

Belakangan ini ada tren yang tak lazim. Para miliarder yang biasanya berkutat di teknologi, keuangan, bahkan industri luar angkasa, kini turun ke bumi.

Wartapilihan.com, Bogor– Turun ke bumi secara harfiah. Mereka membeli lahan, mendanai penelitian di bidang pertnian, dari benih hingga mempopulerkan daging nabati.

Nama paling menonjol adalah Bill Gates. Bill Gates disebut sebagai pemilik lahan pertanian terbesar di Amerika Serikat (The Land Report, 2021). Selain Gates, nama-nama seperti Jeff Bezos dan Richard Branson juga ikut masuk ke dunia pertanian dan pangan berkelanjutan.

Pertanyaannya: mengapa?

Apakah ini hanya soal uang? Mungkin sebagian iya. Dunia menghadapi krisis pangan. Pangan bisa menjadi bisnis paling mendasar selama manusia harus makan. Namun, bisa jadi ada motif lain yang lebih dalam dan kompleks dari sekadar keuntungan.

Pertama, setelah membangun kerajaan teknologi, mungkin mereka mencari medan perjuangan lain. Bidang yang lebih menyentuh umat manusia. Pertanian, sebagai urat nadi kehidupan, menawarkan itu. Ini bisa menjadi legacy project. Di ladang, mereka bisa meninggalkan warisan: benih yang tahan iklim, sistem pangan yang efisien, atau pertanian regeneratif yang dapat menyelamatkan bumi (GatesNotes.com).

Kedua, rasa tanggung jawab moral. Puluhan tahun teknologi dianggap mendorong konsumsi. Dan globalisasi dituduh mempercepat kerusakan alam, mungkin mereka ingin menebus. Gates, misalnya, mendanai riset pemanfaatan mikroba ramah lingkungan untuk mengganti pupuk kimia (Pivot Bio, 2023). Ini seperti industrial repentance, pertobatan dunia industri menuju masa depan yang lebih lestari.

Ketiga, tantangan. dunia pertanian hari ini penuh dengan teka-teki raksasa. iklim tak menentu, tanah menipis, air mengering. Bagi mereka yang sudah menaklukkan algoritma dan pasar saham, pertanian menjadi medan permainan yang lebih kompleks, menantang dan bermakna.

Keempat, pertanian kini bisa menjadi bagian diplomasi lunak masa depan. Bantuan benih, teknologi irigasi, dan sistem digital pertanian bisa membangun pengaruh lebih kuat disbanding investasi militer. Dalam dunia yang saling tergantung, pangan adalah bentuk baru dari kekuasaan (FAO & IFPRI Reports).

Kelima, dan mungkin yang paling manusiawi. Para milyader ini sedang mencari makna. Di usia matang, setelah segalanya terkumpul, mereka mulai sadar bahwa bumi ini bukan hanya untuk dieksploitasi, bumi perlu dirawat. Menanam dan memanen adalah siklus yang dapat mengingatkan manusia akan posisi dan tempatnya di dalam semesta.

Viktor Frankl, tokoh psikologi eksistensial, mengatakan bahwa manusia terdorong oleh kebutuhan akan makna. Pertanian memberi mereka itu: makna yang lahir dari siklus hidup, dari memberi makan orang lain, dan dari menyatu dengan ritme alam (Frankl, 1946). Bagi sebagian, ini adalah semacam post-industrial healing, atau pertobatan spiritual yang bersentuhan dengan tanah.

Pertanyaannya kini kembali kepada kita:
Jika para miliarder saja mulai beralih ke pertanian, mengapa kita, yang segitu dekat dengan sawah dan ladang malah menjauhinya? Mengapa negara masih saja membiarkan sektor pangan diserahkan kepada impor dan korporasi asing?

Kita tidak perlu menunggu isyarat mereka. Kita harus segera memuliakan pertanian dengan riset, insentif, dan keberpihakan nyata. Masyarakat jangan kendor dan minder. Ladang adalah kampus yang paling purba, dan petani sejatinya adalah penjaga peradaban.

Dr Ir Agus Somamihardja