Mengambil Hikmah Gempa Lombok

by
Masjid Al-Amanah dekat Pantai Mentigi, Malaka, Kabupaten Lombok Utara (KLU), sebagian hancur terdampak gempa. Foto: Zuhdi.

“Wallahu A’lam kita tidak tahu persis apa sebabnya. Tapi inilah hukum dan peringatan Allah agar kita lebih bersyukur dan bertaqwa,” kata Ustaz Siddik.

Wartapilihan.com, Lombok — Jika seorang sudah menyatakan diri beragama Islam, mengaku sebagai muslim, apa pun posisi dan kedudukan sosialnya, maka ia berkewajiban memiliki pola pikir dan pola tindak yang Islami.

Mengintegrasikan seluruh aspek (islamic worldview) senantiasa ia pertahankan. Wacana bahwa Indonesia adalah bukan Negara agama dan bukan Negara sekuler – tetapi juga bukan Negara yang bukan-bukan – tidak terlalu mempengaruhi alam pikir seorang Muslim yang memiliki pandangan alam (worldview) Islam.

Sebab, di mana pun, dan kapan pun, seorang muslim akan menempatkan dirinya sebagai hamba Allah yang cinta dan ridha untuk selalu berusaha menaati ajaran-ajaran Allah yang disampaikan kepada kita melalui utusan-Nya yang terakhir (yaitu Nabi Muhammad SAW).

Pandangan alam sekuler yang mengarahkan manusia beda tempat, beda pandangan dan beda keyakinan tidak patut dikembangkan di Indonesia. Sebab, pandangan ini menjadikan manusia tidak beradab terhadap Tuhan-Nya.

Kendati fakta-fakta sejarah menunjukkan bahwa “Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah bermakna “Tauhid Islam”, tetapi realitas kehidupan di Indonesia masih banyak didominasi orang-orang yang masih memandang bahwa NKRI harus dijauhkan dari agama, khususnya Islam. Setidaknya, seorang Muslim didorong untuk bersikap inkosisten dengan syahadatnya dan dilarang membawa-bawa agama dalam kesehariannya.

Tentu, konsep sekularisme semacam itu tidak berlaku bagi Muslim. Sebab, Islam tidak mengenal tradisi sekuler sebagaimana masyarakat Barat yang traumatik terhadap campur tangan agama dalam kehidupan mereka. Internalisasi sekularisme ke dalam masyarakat Islam, pasti akan menemui kegagalan, sebagaimana di Turki dan juga di Indonesia.

Seorang muslim tidak mungkin melepas agamanya dimanapun ia berada. Bahkan, sampai masuk toilet pun, seorang Muslim terus membawa agamanya. Ia berusaha memegang adab buang air. Memasuki dengan kaki kiri dan membaca doa tertentu yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Kejadian alam seperti tanah longsor, gempa bumi, tsunami, banjir, gunung meletus, angin puting beliung, dan lainnya merupakan fenomena yang sering terjadi, khususnya di Indonesia. Secara empiris, tentu para ahli mengatakan kejadian tersebut berdasarkan kajian dan penelitian ilmiah.

Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Mohammad Siddik dalam kunjungan ke Mentigi, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Sabtu (18/8) mengajak kepada masyarakat untuk merenungkan sebab Allah Swt mendatangkan gempa bumi di daerah julukan Pulau Seribu Masjid itu.

“Biasanya karena kita jarang berdoa, jarang istighfar, kurang ibadah, dan kurang bersyukur. Ada juga dosa yang dilakukan orang lain dan berimbas kepada kita,” ujar Ustaz Siddik.

“Wallahu A’lam kita tidak tau persis apa sebabnya. Tapi inilah hukum dan peringatan Allah agar kita lebih bersyukur dan bertaqwa,” sambungnya.

Siddik mengingatkan kepada masyarakat bahwa kejadian gempa bumi beberapa waktu lalu merupakan peringatan dari Allah Swt agar manusia lebih meningkatkan kualitas keimanannya.

“Jadi semua ini tidak datang begitu saja, semua kejadian tidak datang secara kebetulan. Ada hikmah di setiap kejadian yang Allah tunjukkan. Kita ambil hikmahnya untuk lebih bersyukur serta berikhtiar untuk kembali memperbaiki (tempat tinggal),” tuturnya.

Guna memperbaiki kondisi masyarakat terdampak bencana, ungkap Siddik, LAZNAS Dewan Da’wah terus berupaya bersama beberapa elemen baik dalam maupun luar negeri. “Mudah-mudahan Allah meringankan beban kita semua,” harapnya.

Mantan Direktur Islamic Development Bank (IDB) ini menandaskan, kebutuhan dan keperluan masyarakat Lombok Utara sangat besar. Diantaranya renovasi bangunan, pemulihan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan fasilitas air bersih.

“Alhamdulillah dengan ikhtiar bantuan yang kami berikan, masyarakat diringankan. Namun, masyarakat masih membutuhkan amal baik dari para muhsinin (donatur). Semoga Allah meridhai setiap gerak langkah kita dan menjadikan kebaikan kita sebagai amal jariyah,” tutupnya.

Sebelumnya, di lapangan Pantai Mentigi, khatib Jumat mengatakan, amanah agama adalah amanah yang besar, sehingga ketika Allah memerintahkan langit, gunung, bumi tidak sanggup. Maka, Allah memberikan amanah kepada manusia.

“Tetapi ketika manusia tidak amanah, makhluk Allah yang tadinya berkhidmat untuk manusia, makhluk tersebut memberikan ujian berupa longsor, tsunami dan gempa bumi,” kata sang khatib dalam khutbahnya.

“Hari ini para ahli memberikan pernyataan lempengan bumi retak. Pertanyaannya, siapa yang meretakan? Jawabannya adalah Allah yang menggerakkan. Nampak kerusakan dan perpecahan di muka bumi karena ulah manusia,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, Allah akan mendatangkan rezeki serta kenikmatan yang berlimpah ketika manusia beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt. Bahkan, Allah mendatangkan rezeki dari segala penjuru.

“Tetapi Allah menjelaskan, negeri yang telah beriman, kemudian ingkar kepada Allah. Maka, Allah timpakan rasa takut dan kelaparan karena sebab dosa-dosa mereka,” katanya.

Hari ini, keberadaan umat Islam, kata dia, seperti buih di lautan yang digambarkan Rasulullah oleh para sahabat tentang kondisi umat Islam di akhir zaman.

“Dikarenakan umat Islam memiliki penyakit wahn’ yaitu cinta kepada dunia dan takut mati. Padahal, dunia bukan tempat bermukim sebenarnya. Akhirat adalah kehidupan yang kekal (abadi). Pagi atau petang kita pasti pergi dari dunia ini,” ujar dia.

Karena itu, Rasulullah Saw alihkan tujuan hidup para sahabat kepada akhirat. Momentum tersebut tergambar ketika para sahabat menggali parit saat Perang Khandaq. Apa target Rasulullah?

“Seandainya kalian tahu nikmat akhirat lebih baik dari dunia, maka kalian akan meminta lebih miskin dari kondisi saat ini. Maka, kejarlah kehidupan di akhirat, insya Allah kehidupan dunia akan mengikuti,” pungkasnya.

Ahmad Zuhdi