Harga Seorang Manusia

by
Memahami perasaan, merasa diakui keberadaannya. Foto: Cinta Putih Zahra.

Hal yang paling penting dari diri seorang manusia adalah perasaannya, karena perasaan mencerminkan keseluruhan diri seseorang.

Wartapilihan.com, Jakarta – Hal tersebut diungkapkan Elly Risman, psikolog keluarga. Pasalnya, hal yang berkembang pertama kali dari otak seseorang (otak merupakan mesin utama manusia bukan?) adalah pusat perasaan.

“Manusia pertama kali belajar segala sesuatu didorong oleh perasaan, terutama perasaan diri dan orang terdekat. Kita pertama kali belajar berkomunikasi dengan mengutarakan perasaan (melalui senyuman, tawa, tangisan, rengekan, bahkan rintihan). Kita juga belajar merespon orang lain dari perasaan kita yang menangkap perilaku orang tersebut,” tutur Elly, dalam laman Facebook Yayasan Kita dan Buah Hati.

Jika kita menolak atau mengabaikan perasaan seseorang, orang tersebut merasa kita telah menolak keseluruhan dirinya, terutama bagi anak-anak yang sedang belajar menamai dan mengenali perasaannya sendiri.

“Jika anak terlalu sering ditolak perasaannya, maka ia belajar bahwa perasaannya tidak penting. Sehingga kesulitan mengelola perasaan dan menerima perasaan orang lain.

Ia memisalkan, di Indonesia atau bahkan di berbagai belahan dunia lainnya, anak laki-laki tidak boleh menangis. Hal tersebut, menurut Elly dapat menyebabkan laki-laki memperlakukan wanita cenderung menggunakan kekerasan dan bahkan melakukan pemerkosaan.

“Masalah lebih pelik ketika korban kekerasan lalu melampiaskan kepada yang lebih lemah lagi. Terbentuklah lingkaran kekerasan. Dari mana mulai mengurai?” ia bertanya-tanya.

Daniel Goleman menekankan, problem solving dan kecerdasan emosi (mengenali emosi, mengelola emosi, dan ekspresi emosi dengan cara yang benar), diajarkan oleh ayah. “Kecerdasan emosi tak bisa diajarkan semalam jadi. Ia adalah buah dari pengasuhan sejak bayi baru lahir. Tak beda dengan perempuan, anak laki-laki juga manusia,” tukasnya.

Orangtua, menurut Elly, perlu untuk membaca Bahasa tubuh sang anak, kemudian terima dan namai perasaannya. Misalnya, “kamu lapar ya? ooo sakit ya karena jatuh? kamu takut tenggelam ya? kamu khawatir ibu pergi ya?”

“Hadirkan diri kita 100% untuk mendengarkan apa yang membuat ia merasa lapar, sakit, takut, dan berbagai perasaan yang ia rasakan. Bantu anak kita menerima emosinya dengan belaian, pelukan, dan memberi rasa tenang,” imbuh dia.

Lebih lanjut, ajarkan anak untuk mengekspresikan emosinya lewat kata-kata seperti “Oooo jadi adek ga mau masuk kelas karena takut ibu pergi?”. Kemudian Pahami perasaan dan kebutuhan anak dengan mendengar aktif, “jadi, adek ingin ibu temenin dulu?”

“Pahami keterbatasan anak dan bantu ia untuk mengatasinya bahkan sebelum kita membawanya ke situasi yang mungkin akan membuat ia tidak nyaman, “Sayang, besok adek akan mulai sekolah. Di sana akan ada bu guru yang baik, teman-teman yang banyak, ada mainan, buku, pinsil warna-warni. kamu bisa bernyanyi lagu-lagu bagus dengan bu guru dan teman-teman. Bunda juga bekalkan makanan kesukaanmu, mau? Bunda akan jemput ketika adek akan pulang”. Hal tersebut membantu anak beradaptasi dan lebih siap dengan yang akan ia hadapi,”

 

Eveline Ramadhini