FADINDA

by

By Iwan Wientania

Adinda oh sayang Adinda
Namamu tiada duanya
Adinda oh sayang Adinda
Dikau intan permata

Sejuknya embun dini hari
Sesejuk tutur senyum kau beri
Hangatnya sinar matahari
Sehangat cinta yang kau beri.

🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼

Syair di atas adalah dua bait dari lirik lagu berjudul Adinda yang dinyanyikan oleh Acil
Bimbo.
Mendengar lagu itu mungkin ada sebagian orang yang teringat dengan wanita yang disebut Adinda, yang barangkali bersentuhan atau bahkan bagian dari kehidupannya seperti teman sekolah atau kekasih atau bahkan isteri.
Tapi bagaimana dengan Fadinda ?
Ini pasti tidak familiar di telinga kalian dan bahkan di telingaku sendiri.

Mulanya aku tak tahu kalau namanya adalah Fadinda.
Dia seorang wanita yang rupawan berhidung mancung dan berkulit kuning keputih putihan.
Dalam memoriku hanya ada nama Dinda.
Tapi kali ini aku baru tahu bahwa namanya sebenarnya adalah Fadinda, Fadinda Yusmalina.

Cantik orangnya dan indah namanya.
Ya tentu saja indah karena namanya adalah nama pemberian dari teman senimanku, ayah Fadinda, Yuslam Allah yarham.

” Memang ” kata kawanku, seorang penyair, ” Kelebihan seniman adalah dalam hal memberi nama untuk anak-anaknya “.

Sebenarnya Fadinda bukan teristimewa bagiku.
Yang teristimewa justru kakaknya, Kharisma, karena sewaktu kecil di usia tiga sampai empat tahun sering tidur di sebelahku.
Atau adiknya, Salsabila Khalisa, yang mana namanya adalah nama pemberianku.

Sekarang mereka sudah jadi ibu-ibu kecuali Salsa, dia belum menikah.
Tapi, dua tahun terakhir ini, Fadinda agak lain, maksudku bukan dia susah dinasihati atau sulit dipahami, tapi nyaris tiap bulan dia memasukkan uang ke rekeningku.
” Om Iwan, dari Fadinda Yusmalina ” tulisan di bawah bukti rekening yang ia kirimkan lewat wthats app
Terharu juga aku jadinya.
Ada dua kali kukatakan padanya, bila ada yang lebih memerlukan tidak harus diberikan kepadaku.
” Nggak apa-apa, om “, jawabnya.
” Dinda telah bejanji dalam hati, dengan kiriman ini akan menyambung silaturrahim dengan sahabat papa, selama Dinda bisa… ” Jawabnya.

Begitulah, sudah dua tahun ini Fadinda mentransfer ke rekeningku.
Aku tak dapat membalasnya, aku hanya bisa berdoa untuk kebaikan dan keselamatannya, juga untuk kakak, adik, ibunya dan tentu juga untuk papanya, sahabatku yang telah di alam baqa.

( Depok awal tahun 2024 )