Di tengah semrawutnya tata kelola bangsa hari ini, di mana kekuasaan lebih sering dipertontonkan daripada digunakan untuk melayani, kita mungkin perlu menoleh ke belakang. Banyak naskah warisan leluhur yang terang-terangan mengajari bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap.
Wartapilihan.com, Bogor– Salah satunya Sewaka Darma, naskah Sunda Kuna abad ke-15. Ditulis pada masa Kerajaan Sunda-Galuh, naskah ini merupakan wejangan untuk para raja dan bangsawan. Penulisnya tidak diketahui pasti, namun nilai-nilainya mencerminkan suara nurani para bijak bestari zaman itu.
Kekuasaan sejati bukan soal tahta, tapi soal pengabdian.
Artinya sederhana: memimpin adalah mengabdi. Dalam bahasa Sunda Kuna, pemimpin sejati disebut kawula, bukan prabu. Ia melayani, bukan memerintah. Ajarannya jelas dan tak bisa disalahpahami:
“Haji nihan kawula, tan wenang aweh susah ka rahayat.”
Raja itu pelayan. Tak boleh membuat rakyat menderita.
Lalu, apa yang membuat seorang pemimpin layak disebut “sejati”?
Pertama, ia tahu bahwa jabatan adalah amanah, bukan hak. Bila disalahgunakan, rakyat berhak mencabutnya.
Kedua, setiap kebijakan harus lahir dari welas asih, bukan dari syahwat kuasa.
Ketiga, kepentingan umum adalah hukum tertinggi, bukan golongan, bukan keluarga, apalagi partai.
Sewaka Darma juga mengingatkan bahwa pemimpin yang baik adalah pendengar. Pemimpin bukan orang yang bicara paling keras, tapi yang paling peka pada jerit rakyat kecil. Pemimpin tidak hanya pintar, tapi bermoral. Tidak hanya terampil, tapi berani jujur.
Dan yang paling penting: ia berjalan bersama nilai spiritual. Pemimpin sadar bahwa kekuasaan bukan miliknya. Kekuasaan adalah titipan yang akan diadili oleh sejarah dan Tuhan.
Apakah kita masih punya pemimpin yang merasa dirinya kawula? Atau kita sedang dikuasai para prabu palsu yang menjadikan rakyat alat legitimasi belaka?
Kalau negeri ini ingin bangkit, jangan cari pemimpin yang suka pamer program.
Carilah dia yang diam-diam memikul beban rakyat dengan welas asih.
Yang bukan sibuk membangun pencitraan, tapi menyelamatkan kehidupan.
Bangsa ini tak butuh raja baru. Ia butuh abdi sejati.
Dr. Ir. Agus Somamihardja (Pegiat Pangan Lokal, Alumni IPB University C-20)
Referensi:
•Ekajati, Edi S. (1984). Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
•Atja dan Danasasmita, Saleh (1981). Sewaka Darma: Naskah dan Terjemahan. Bandung: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda, Dirjen Kebudayaan Depdikbud.

