Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan perubahan signifikan dalam tatanan global, terutama dengan munculnya BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan) sebagai kekuatan baru yang mengubah dinamika ekonomi dan politik dunia. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah BRICS dapat menyaingi negara-negara Barat, tetapi mengapa mereka kini menjadi pengatur permainan.
Wartapilihan.com, Jakarta–Dulu, BRICS dianggap sebagai sekadar forum diplomatik bagi negara-negara berkembang, tanpa kesamaan yang jelas. Namun, saat ini, mereka telah bertransformasi menjadi aliansi yang kuat dalam bidang ekonomi, geopolitik, dan teknologi. Menurut data terbaru, BRICS kini menguasai 33,6% PDB global dalam Paritas Daya Beli (PPP), melampaui G7 yang hanya mencapai 29,9%. Ini adalah fakta yang diakui oleh IMF, bukan sekadar spekulasi.
Keanggotaan BRICS kini telah berkembang, mencakup negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, Mesir, Ethiopia, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Aliansi ini kini memiliki akses terhadap komoditas, pelabuhan, dan jalur logistik yang menghubungkan berbagai benua, menciptakan jaringan yang semakin kuat.
Sementara itu, negara-negara G7 masih terjebak dalam masalah utang, dengan rasio utang terhadap PDB yang tinggi. Di sisi lain, BRICS telah menambah output ekonomi sebesar US$ 7,8 triliun sejak 2020, menunjukkan kekuatan yang semakin nyata.
BRICS juga telah mengambil langkah berani dengan menyelesaikan pengiriman gandum pertama mereka melalui bursa gandum BRICS, menggunakan sistem pembayaran yang tidak bergantung pada dolar AS. Ini menandai awal dari pergeseran dominasi dolar dalam perdagangan global.
Dalam bidang teknologi, BRICS tidak hanya berfokus pada komoditas, tetapi juga pada pengembangan industri dan inovasi. Cina, misalnya, menyumbang hampir 30% dari output manufaktur global, sementara India menunjukkan pertumbuhan pesat dalam sektor manufaktur. Negara-negara anggota BRICS juga berkolaborasi dalam proyek infrastruktur dan teknologi yang tidak bergantung pada lembaga keuangan Barat.
Sistem finansial BRICS yang baru, termasuk Bank Pembangunan BRICS dan sistem pembayaran BRICSPay, telah mulai beroperasi tanpa melibatkan dolar atau SWIFT, menunjukkan bahwa mereka sedang membangun alternatif yang kuat.
Dengan semua perkembangan ini, BRICS tidak hanya membangun jaringan perdagangan, tetapi juga infrastruktur digital yang akan mengubah cara kita berinteraksi dan bertransaksi di dunia maya. Proyek-proyek seperti kabel bawah laut dan sistem blockchain menunjukkan bahwa mereka sedang menciptakan ekosistem digital yang mandiri dan tidak bergantung pada kekuatan Barat.
Ketika BRICS mengajukan proposal untuk standar komunikasi kuantum baru, kita menyaksikan upaya mereka untuk mengubah paradigma keamanan siber global. Semua ini menunjukkan bahwa kita sedang memasuki era baru di mana dominasi digital tidak lagi terpusat di Barat.
Apakah kita siap menghadapi dunia di mana jaringan, standar, dan kepercayaan digital tidak lagi berpusat di negara-negara Barat? Jika tidak, perubahan ini akan terus berlangsung tanpa menunggu kita siap.

